Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Refleksi Tahun Baru Islam

Budiyono Dion, Meniti Jalan Nurani
Refleksi Tahun Baru Islam
Bulan Muharam dijadikan bulan pertama dalam kalender Islam. Setiap bulan pertama ini kebanyakan umat Islam merayakannya sebagai tahun baru Islam. Berbagai kegiatan dilakukan untuk merayakan tahun baru ini. Walaupun merayakan tahun baru ini bukanlah ajaran dan budaya Islam, namun masyarakat merayakannya dengan berbagai macam kegiatan seperti; pengajian, tabligh akbar, ceramah agama dan lain-lain, yang tidak menjurus pada tindak syirik. Tetapi hal yang lebih penting dalam tahun baru ini adalah, perlunya muhasabah, intropeksi diri atau evaluasi diri baik secara individu maupun kolektif. Allah berfirman:        •    •   •     Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Hasyr/QS.59: 18)

 Hendaklah setiap orang memiliki kesanggupan untuk melakukan intropeksi diri, evaluasi diri, agar mengetahui kekurangan dan kelebihannya, baik dan buruknya pada diri sendiri. Apa yang telah terjadi di masa lampau, perbuatan apa pun yang pernah kita dilakukan, untuk kepentingan masa depan, baik dalam pengertian duniawi maupun ukhrawi. Ayat ini secara eksplisit menyebutkan perintah bertaqwa kepada Allah Swt. Disebutkan dalam Tafsîr ibnu Katsîr bahwa taqwa sendiri diaplikasikan dalam dua hal, yaitu; menepati aturan Allah dan menjauhkan diri dari laranganNya. Jadi, tidak bisa kita mengatakan “saya telah menegakkan shalat”, setelah itu berbuat maksiat kembali. Karena makna taqwa sendiri saling bersinergi, tidak dapat dipisahkan antara keduannya, antara menepati aturan Allah dan menjauhkan diri dari laranganNya. Al-Qurthubiy dalam kitab tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, menyatakan bahwa perintah taqwa (pada rangkaian ayat ini) bermakna: “Bertaqwalah pada semua perintah dan larangannya, dengan cara melaksanakan farâidh-Nya (kewajiban-kewajiban) yang dibebankan oleh Allah kepada diri kita — sebagai orang yang beriman — dan menjauhi ma’âshî-Nya (larangan-larangan) Allah, yang secara keseluruhan harus kita tinggalkan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Orang yang beriman selalu memiliki komitmen untuk bertaqwa kepada Allah Swt. Penggalan ayat selanjutnya mempunyai makna yang mendalam. Waltanzhur nafsun mâ qaddamat lighadin. Dan hendaklah seseorang melihat apa yang telah ia perbuat (di masa lalu) untuk hari esok. Dalam kitab Tafsîr ibnu Katsîr, ayat ini disamakan dengan perkataan hâsibû anfusakum qablaan tuhâsabû. Hisablah (introspeksi) diri kalian sebelum nanti kalian dihisab (di hari akhir). (WattaqûLlâh) Dan bertaqwalah kepada Allah. Kalimat kedua (wattaqûLlâh) sama dengan pernyataan Allah dalam kalimat pertama ayat ini. Perintah bertaqwa disebutkan dua kali sebagai sebuah bentuk penekanan. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya ketaqwaan kita kepada Allah. Oleh sebab itu, perintah bertaqwa juga disebutkan dan ditekankan oleh para khatib pada setiap khutbah Jum’atnya. Al-Qurthubiy menjelaskan bahwa kalimat wattaqûLlâh pada rangkaian yang kedua (dalam ayat ini) memberikan pengertian: “Seandainya rangkaian kalimat pertama (wattaqûLlâh) bisa dipahami sebagai perintah untuk bertaubat terhadap apa pun perbuatan dosa yang pernah kita lakukan, maka pengulangan kalimat wattaqûLlâh pada ayat ini (untuk yang kedua kalinya) memberikan pengertian agar kita berhati-hati terhadap kemungkinan perbuatan maksiat yang bisa terjadi di kemudian hari setelah kita bertaubat, karena setan tidak akan pernah berhenti menggoda diri kita”.
Pages: 1 2
Budiyono
Budiyono saya seorang guru yang ingin bermanfaat bagi sesama dalam hidupku, terus beramal menebarkan kebaikan

Post a Comment for "Refleksi Tahun Baru Islam"