Budiyono Dion, Meniti Jalan Nurani

INGAT NIKMAT ALLAH, JANGAN BERPALING DARI TAUHID
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (3)
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh persaingan seperti sekarang ini, banyak manusia yang terjebak dalam rutinitas duniawi hingga lupa akan hakikat hidup dan siapa sesungguhnya pemberi rezeki. Allah menyeru kepada segenap manusia agar selalu ingat atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia. Allah telah melimpahkan rezeki kepada mereka dari langit dan bumi. Maka tidak ada tuhan selain Allah yang wajib diibadahi.
Firman Allah Swt.
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Fathir/QS.35:3)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan; Allah Swt. mengingatkan hamba-hambaNya dan memberi mereka petunjuk kepada hal-hal yang mengarahkan mereka untuk mengakui keesaan Allah dan menyembah hanya kepada-Nya. Sebagaimana Allah sendirilah Yang menciptakan dan Yang memberi rezeki, maka sudah sepantasnya bila Allah sematalah yang disembah dan tidak mempersekutukanNya dengan yang lain, seperti dengan berhala-berhala, tandingan-tandingan, dan sesembahan-sesembahan lainnya yang batil.
Karena itulah disebutkan dalam firmanNya
{لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ}
“Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Fathir/QS.35:3)
Mengapa kalian berpaling dari mengesakan Allah sesudah adanya penjelasan dan bukti-bukti yang terang ini, lalu kalian menyembah sesudah itu tandingan-tandingan dan berhala-berhala; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ingat, bahwa ayat ini dimulai dengan seruan universal: “Yā ayyuhannās” (Hai manusia). Ini menegaskan bahwa pesan ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, tidak terbatas hanya kepada kaum Muslimin. Allah mengajak semua orang untuk merenungi nikmat yang telah mereka terima, sebagai titik awal untuk membangun kesadaran spiritual.
Kita selayaknya selalu mengingat nikmat Allah. Karena mengngat nikamat Allah menjadi pintu menuju kesadaran Tauhid. Allah menyuruh manusia untuk “tadzakkarū ni‘matallāh ‘alaikum” (ingatlah akan nikmat Allah atas kalian). Nikmat di sini bersifat menyeluruh: mulai dari kehidupan, kesehatan, akal, makanan, keamanan, hingga limpahan rezeki dari langit (seperti hujan, udara) dan dari bumi (seperti tanaman, air, dan mineral). Kesadaran akan nikmat ini semestinya menumbuhkan syukur dan menjadikan hati tunduk hanya kepada Sang Pemberi Nikmat.
Tidak ada pencipta dan pemberi rezeki selain Allah. Pertanyaan retoris dalam ayat ini menggugah akal dan hati: “Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” Ini adalah tantangan logis. Jika manusia mengakui bahwa rezeki datang dari Allah, mengapa masih ada yang menyekutukan-Nya atau mengandalkan selain-Nya?
Para ulama menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan dan Pemelihara) yang mencipta dan memberi rezeki tanpa sekutu. Maka dari itu, menyembah selain-Nya adalah bentuk kesesatan akidah dan kelalaian logika.
Ayat ini ditutup dengan pertanyaan tajam:"fa-annā tu’fakūn” — “maka mengapa kamu berpaling (dari tauhid)?” Ini adalah teguran bagi siapa pun yang masih mengabaikan Allah, ini menjadi puncak peringatan: mengapa masih berpaling? Padahal segala kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh-Nya. Berpaling dari tauhid bukan hanya kesalahan aqidah, tapi juga bentuk pengingkaran terhadap nikmat yang nyata.
Satu-satunya cara untuk memelihara dan menjaga kelestarian nikmat yang ada pada seseorang ialah mensyukuri nikmat itu. Dengan demikian, Allah akan selalu menambahnya.
Sebaliknya, kalau nikmat itu tidak disyukuri, maka Allah akan menimpakan azab yang keras, sebagaimana firmanNya
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (Ibrahim/QS.14:7)
Allah satu-satunya pemberi rezeki yang hakiki, baik yang turun dari langit berupa hujan dan sebagainya, maupun yang tumbuh dari bumi berupa keperluan hidup seperti beras, air, pakaian, dan sebagainya.
Mengingat banyaknya nikmat Allah, maka kita seharusnya banyak pula bersyukur kepadaNya. Kita tidak bisa menghitung nikmat Allah yang kita nikmati. Tidur, bernafas, makan, minum, bisa berjalan, melihat, mendengar, dan berbicara, semua itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala, bahkan bersin pun adalah sebuah nikmat. Semua nikmat Allah itu jika dirupiahkan sudah banyak rupiah nikmat Allah yang kita nikmati itu. Kita tidak mampu bisa menghitungnya. Sudah berapa oksigen yang kita hirup? Banyak nikmat Allah yang terhitung jumlahnya, sehingga Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nahl/QS.16:18)
Untuk itu kita harus menjadi orang yang pandai bersyukur kepada Allah Ta’ala. Bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bersyukur.
Bersyukur kepada Allah Swt. dapat kita lakukan dengan, Pertama; hati mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat yang kita peroleh berasal dari Allah Ta’ala semata, sebagaimana firmanNya.
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”( An Nahl/QS.16:53)
Orang yang menisbatkan bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah Ta’ala, ia adalah hamba yang bersyukur. Selain mengakui dan meyakini bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala hendaklah kita mencintai nikmat-nikmat yang kita peroleh dariNya.
Tetapi kebanyakan orang sering melupakan atas nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita, seperti nikmat sehat dan nikmat waktu luang.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari).
Maka kita harus banyak bersyukur kepada Allah Swt. Karena semua nikmat itu berasal, datang dari Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (An Nahl/QS.16:53)
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah.” (An Nahl/QS.16:114).
Bersyukur merupakan perintah Allah Ta’ala
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Ingatlah kepadaKu, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepadaKu, janganlah kalian kufur.” (Al Baqarah/QS.2:152)
Pada ayat tersebut Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum.
Di tengah era modern, banyak manusia yang lebih percaya pada kekuatan materi, teknologi, dan usaha semata. Padahal, semua itu hanyalah wasilah (perantara). Rezeki sejati tetap datang dari Allah. Seseorang bisa bekerja keras, namun tanpa izin dan takdir Allah, hasil tidak akan pernah datang. Karena itu, penting bagi manusia untuk mengembalikan hati kepada tauhid, menyadari bahwa sumber utama kehidupan adalah rahmat dan kehendak Allah SWT.
Surah Fathir ayat 3 mengingatkan manusia untuk kembali kepada akar keimanan: kesadaran akan nikmat Allah dan tauhid yang murni. Ayat ini bukan sekadar pengingat, tapi juga ajakan untuk hidup dengan penuh kesyukuran, keimanan, dan kebergantungan kepada Allah semata. Jangan biarkan dunia menutupi mata hati kita dari kebenaran. Ingatlah siapa yang menciptakan kita, siapa yang memberi rezeki, dan kepada siapa kita akan kembali. Kita harus selalu ingat nikmat Allah, yang menjadikan kita pandai bersyukur, dengan mentaati perintahNya dan tidak mendurhakaiNya.
*****
Post a Comment for "INGAT NIKMAT ALLAH, JANGAN BERPALING DARI TAUHID"