Budiyono Dion, Meniti Jalan Nurani

ANTARA KETERBATASAN MAKHLUK DAN KEKUATAN ALLAH
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (33)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sering membuat manusia merasa hebat dan seolah bisa menaklukkan apa pun, bahkan langit sekalipun. Namun, Allah dengan tegas mengingatkan bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukan berasal dari manusia atau jin, tetapi dari-Nya. Hal ini menunjukkan, adanya keterbatasan makhluk dan supremasi kekuasaan Allah dalam segala ciptaan-Nya.
Firman Allah
“Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (Ar Rahman/QS.55:33)
Berdasarkan penjelasan Tafsir Al-Muyassar; Wahai jin dan manusia, bila kalian mampu menembus perintah Allah dan hukumNya dengan berlari dari ujung langit dan bumi, maka lakukanlah.
Kalian tidak sanggup melakukannya kecuali dengan kekuatan dan hujjah serta izin dari Allah. Mana mungkin kalian lakukan, sedangkan kalian sendiri tidak memiliki kuasa untuk mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri kalian?
Maka nikmat manakah dari nikmat-nikmat Tuhan kalian berdua (wahai jin dan manusia) yang kalian dustakan?
Sedangkan Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI, Surat Ar-Rahman Ayat 33, Allah menegaskan bahwa manusia dan jin tidak akan dapat menghindar dari pertanggung jawaban.
Wahai golongan jin dan manusia! jika kamu sanggup menembus atau melintasi penjuru langit dan bumi untuk menghindari pertanggung jawaban dan balasan yang akan menimpamu, maka keluar dan tembuslah keduanya. Ketauhilah, kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan, sedangkan kamu sama sekali tidak mempunyai kekuatan itu. Maka, wahai manusia dan jin, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Berbagai tulisan tersebar tentang tafsir ayat ini (Ar Rahman 33), ada tiga penafsiran terkait ayat ini yakni tentang ketidakmampuan manusia lari dari kekuasaan Allah, ketidakmampuan manusia menghindari dari pertanggungjawaban di akhirat nanti, dan kebebasan dari Allah untuk menjelajah ruang angkasa. Tetapi banyak pembaca yang mengikuti tafsir Ibnu Katsir.
Tafsir ringkas Ibnu Katsir dijelaskan; Kalian tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir¬Nya, bahkan Dia meliputi kalian dan kalian tidak akan mampu melepaskan diri dari hukum-Nya, tidak pula membatalkan hukum-Nya terhadap kalian, ke mana pun kalian pergi selalu diliput. Dan ini menceritakan keadaan di Yaumul Mahsyar (hari manusia dihimpunkan); sedangkan semua malaikat mengawasi semua makhluk sebanyak tujuh saf dari semua penjuru, maka tiada seorang pun yang dapat meloloskan diri,
{إِلا بِسُلْطَانٍ}
kecuali dengan kekuasaan. (Ar-Rahman: 33)
Yaitu dengan perintah dari Allah.
{يَقُولُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ. كَلا لَا وَزَرَ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ}
Pada hari itu manusia berkata, "Ke manakah tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (Al-Qiyamah/QS.75:10-12)
Apabila manusia melihat huru-hara yang amat dahsyat di hari kiamat terjadi, maka setiap orang menginginkan lari menyelamatkan diri seraya mengatakan, "Adakah tempat untuk melarikan diri?" Yakni tempat untuk berlindung dari huru-hara itu. Maka dijawab oleh firman selanjutnya:
{كَلا لَا وَزَرَ إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ}
Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (Al-Qiyamah/QS.75:11-12)
Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan Sa'id ibnu Jubair serta selain mereka yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tiada jalan selamat.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَإٍ يَوْمَئِذٍ وَما لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ
Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu). (Asy-Syura: 47)
Yakni tiada suatu tempat pun bagimu untuk bersembunyi. “Tidak ada tempat berlindung. (Al-Qiyamah:11). Artinya, tiada tempat untuk bersembunyi bagimu. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (Al-Qiyamah;12). Yaitu kamu dikembalikan hanya kepada-Nya.
Allah Swt. menegaskan bahwa manusia dan jin tidak akan dapat menghindar dari pertanggungjawaban. Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus atau melintasi penjuru langit dan bumi untuk menghindari pertanggungjawaban dan balasan yang akan menimpamu, maka keluar dan tembuslah keduanya. Ketauhilah, kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan sedangkan kamu sama sekali tidak mempunyai kekuatan itu.
Ar-Rahman ayat 33 ini adalah bagian dari surah Ar-Rahman yang dikenal dengan gaya retorikanya yang indah dan penuh peringatan. Allah Swt. berfirman langsung kepada dua makhluk berakal, yaitu jin dan manusia, yang sering kali merasa mampu menguasai alam semesta.
إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا (33)
"Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah..."
Ini bukan perintah izin, melainkan bentuk tantangan dan pernyataan batas. Allah menantang manusia dan jin: jika merasa mampu, silakan menembus batas-batas ciptaan Allah. Penjuru langit dan bumi di sini mencakup ruang, waktu, dan batas-batas fisik maupun metafisik yang tak terjangkau oleh makhluk.
لَا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (33)
"...kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan."(ar Rahman/QS.55:33)
Kata "bi sulṭān" (dengan kekuatan) dalam tafsir ulama klasik seperti Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir diartikan sebagai "otoritas" atau "kekuatan dari Allah", bukan kekuatan sendiri. Artinya, tidak ada makhluk yang dapat melampaui hukum Allah atau melewati batas-batas alam kecuali jika Allah mengizinkan dan memberi kekuatan itu.
Ilmu pengetahuan dalam perspektif ayat ini bahwa, banyak yang menghubungkan ayat ini dengan penjelajahan luar angkasa atau teknologi tinggi. Meski manusia bisa pergi ke bulan atau merancang wahana antariksa, semua itu hanya mungkin dengan izin dan sunnatullah (hukum sebab-akibat) yang telah Allah tetapkan di alam semesta.
Namun, makna ayat ini lebih luas dari sekadar perjalanan fisik. Ini juga mencakup:
1. Keterbatasan akal dalam memahami hakikat akhirat
2. Ketidakmampuan menembus takdir
3. Batas manusia dalam melawan maut
Ilmu pengetahuan dan teknologi hanyalah alat. Tanpa petunjuk, rahmat, dan izin dari Allah, semuanya tidak akan berguna.
Pesan moral dan spiritualitas dalam ayat ini mengajarkan kita untuk:
1. Menyadari bahwa kebesaran manusia tetap berada dalam kendali Allah.
2. Tidak sombong dengan capaian teknologi dan ilmu pengetahuan.
3. Mengakui bahwa segala sesuatu di alam ini tunduk pada hukum dan kekuasaan Allah SWT.
Ini juga menjadi panggilan untuk meningkatkan takwa dan kerendahan hati, karena sebesar apa pun kemampuan kita, tetap ada batas yang tidak bisa ditembus kecuali dengan "sulṭān" dari Allah.
Al Quran Surat Ar-Rahman ayat 33 adalah pengingat bahwa kebebasan dan kekuatan makhluk itu terbatas. Baik manusia maupun jin tidak bisa keluar dari kekuasaan Allah, bahkan untuk melintasi penjuru langit dan bumi pun, mereka butuh izin-Nya. Maka, sebesar apa pun ilmu dan pencapaian manusia, semuanya harus melahirkan rasa syukur, rendah hati, dan kesadaran akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung.
*****
Post a Comment for "ANTARA KETERBATASAN MAKHLUK DAN KEKUATAN ALLAH "