Budiyono Dion, Meniti Jalan Nurani

KAMI MENCIPTAKAN KAMU BERBANGSA-BANGSA DAN
BERSUKU-SUKU SUPAYA KAMU SALING MENGENAL
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai persatuan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Manusia diciptakan untuk saling mengenal. Manusia diciptakan berbeda-beda untuk keragaman, untuk saling mengenal dan mengasihi, sehingga bisa memberi manfaat pada sesama, menjadi modal meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. hingga setiap manusia bisa merasakan kedamaian, kesejahteraan dalam hidupnya.
Firman Allah
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Al Hujurat/QS.49:13)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan; Allah Swt. menceritakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, yaitu Adam dan Hawa, kemudian Dia menjadikan mereka berbangsa-bangsa. Pengertian bangsa dalam bahasa Arab adalah sya 'bun yang artinya lebih besar daripada kabilah, sesudah kabilah terdapat tingkatan-tingkatan lainnya yang lebih kecil seperti fasa-il (puak), 'asya-ir (Bani), 'ama-ir, Afkhad, dan lain sebagainya.
Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan syu'ub ialah kabilah-kabilah yang non-Arab. Sedangkan yang dimaksud dengan kabilah-kabilah ialah khusus untuk bangsa Arab, seperti halnya kabilah Bani Israil disebut Asbat. Keterangan mengenai hal ini telah kami jabarkan dalam mukadimah terpisah yang sengaja kami himpun di dalam kitab Al-Asybah karya Abu Umar ibnu Abdul Bar, juga dalam mukadimah kitab yang berjudul Al-Qasdu wal Umam fi Ma'rifati Ansabil Arab wal 'Ajam.
Pada garis besarnya semua manusia bila ditinjau dari unsur kejadiannya, yaitu tanah liat, sampai dengan Adam dan Hawa a.s. sama saja. Sesungguhnya perbedaan keutamaan di antara mereka karena perkara agama, yaitu ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah sesudah melarang perbuatan menggunjing dan menghina orang lain, Allah Swt. berfirman mengingatkan mereka, bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا}
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.“ (Al-Hujurat/QS.49:13)
Agar mereka saling mengenal di antara sesamanya, masing-masing dinisbatkan kepada kabilah (suku atau bangsa)nya.
FirmanNya:
“supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al-Hujurat/QS.49:13)
Nabi Saw. bersabda
“Pelajarilah nasab-nasab kalian untuk mempererat silaturahmi (hubungan keluarga) kalian, karena sesungguhnya silaturahmi itu menanamkan rasa cinta kepada kekeluargaan, memperbanyak harta, dan memperpanjang usia.”
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat/QS.49:13)
Yakni sesungguhnya kalian berbeda-beda dalam keutamaan di sisi Allah hanyalah dengan ketakwaan, bukan karena keturunan dan kedudukan.
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Al-Hujurat/QS.49:13)
Dia Maha Mengetahui kalian dan Maha Mengenal semua urusan kalian, maka Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya dan menyesatkan siapa yang dikehendakiNya, merahmati siapa yang dikehendakiNya dan mengazab siapa yang dikehendakiNya, serta mengutamakan siapa yang dikehendakiNya atas siapa yang dikehendakinya. Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal dalam semuanya itu.
Ada sebagian ulama yang dengan berdasarkan ayat yang mulia ini berpendapat bahwa kafa'ah (sepadan) dalam masalah nikah bukan merupakan syarat, dan tiada syarat dalam pernikahan kecuali hanya agama.
Firman Allah Swt.
{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat/QS.49:13)
Sedangkan sebagian ulama lainnya berpegangan kepada dalil-dalil lain yang keterangannya secara rinci disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih, kami telah mengutarakan sebagian darinya di dalam Kitabul Ahkam.
Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI terhadap surat Al-Hujurat Ayat 13 menyatakan; Ayat yang lalu menjelasakan tata krama pergaulan orang-orang yang beriman, ayat ini beralih menjelaskan tata krama dalam hubungan antara manusia pada umumnya.
Karena itu panggilan ditujukan kepada manusia pada umumnya. Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yakni berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa. Semua manusia sama saja derajat kemanusiaannya, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku lainnya.
Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal dan dengan demikian saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi antara satu kelompok dengan lainnya.
Allah tidak menyukai orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kekayaan atau kepangkatan karena sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang lahir maupun yang tersembunyi, Mahateliti sehingga tidak satu pun gerak-gerik dan perbuatan manusia yang luput dari ilmuNya.
Bahwanya pebedaan ini adalah sunnatullah. Hal itu tidak dapat dihindari namun hanya bisa disikapi dengan cara saling menghargai antara satu dengan yang lainnnya. Yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa Allah menciptakan segala perbedaan ini agar semuanya menjadi indah.
Seharusnyalah umat Islam tidak saling bermusuhan antara satu dan yang lainnya hanya karena perbedaan pendapat. Kita terus menjaga dan meningkatkan persaudaraan keislaman atau yang sering disebut dengan ukhuwah Islamiyah Kita tidak boleh terkoyak hanya karena masalah-masalah yang sebenarnya tidak seharusnya menjadi permusuhan. Antar sesama umat Islam harus saling menasihati dan mengajak ke jalan yang benar.
Selain menjaga ukhuwah islamiyah dengan sesama muslim kita juga wajib membangun ukhuwah insanniyah dengan orang non-Muslim. Secara muamalah atau bermasyarakat kita wajib saling menghormati dan menghargai namun tetap Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Perbedaan-perbedaan tersebut jangan menjadi alat untuk saling bermusuhan dan tidak menanamkan sikap saling benci dan saling memusuhi antar sesama.
Surat Al-Hujurat ayat 13 ini adalah deklarasi ilahiah tentang persamaan hak dan nilai antarmanusia. Islam menolak rasisme dan fanatisme. Ia memuliakan takwa, bukan keturunan. Oleh karena itu, mari kita jadikan ayat ini sebagai prinsip hidup: menyambut keberagaman dengan sikap saling mengenal, menghormati, dan membangun kerja sama untuk kebaikan bersama. Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan mengasihi, sehingga bisa memberi manfaat bagi sesama untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. hingga menjadikan hidup dalam, keadilan, kesejahteraan, kebersamaan, dan kedamaian yang indah.
*****
Post a Comment for "KAMI MENCIPTAKAN KAMU BERBANGSA-BANGSA DAN BERSUKU-SUKU SUPAYA KAMU SALING MENGENAL"