Budiyono Dion, Meniti Jalan Nurani

KAMULAH YANG BERKEHENDAK KEPADA ALLAH DAN
DIA-LAH YANG MAHA KAYA
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)
Allah Maha Kaya. Semua yang ada di langit dan bumi milikNya. Perbendaharaan, kerajaan, dan kekuasaan yang ada di langit dan di bumi berada dalam genggaman dan kendaliNya. Kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi.
Firman Allah
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”(Fatir/QS.35:15)
Tafsir Ibnu Katsir menyatakan; Allah Swt. memberitakan tentang kemahakayaan-Nya dari selain Dia, semua makhluk berhajat kepada-Nya dan hina di hadapan-Nya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّ اسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ}
“Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah.” (Fathir/QS.35:15)
Yakni semuanya berhajat kepada Allah dalam semua gerakan dan diamnya, sedangkan Allah Swt. tidak memerlukan sesuatu pun dari mereka. Karenanya dalam firman selanjutnya disebutkan:
{وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ}
“dan Allah, Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Fathir/QS.35:15)
Hanya Dia sematalah yang benar-benar Mahakaya. Tiada sekutu bagiNya dalam sifatNya ini. Dan Dia Maha Terpuji dalam semua apa yang diperbuat dan dikatakanNya, juga dalam semua apa yang ditakdirkan dan yang disyariatkanNya.
Ada beberapa ayat Alquran yang menunjukkan Allah Maha Kaya, antara lain;
Firman Allah
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ*
“Dan Tuhanmu Maha Kaya, penuh rahmat.” (al-An’am/QS.6: 133)
FirmanNya
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (26)
“Milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Qs. Luqman/QS.31:26)
Jadi, Allah Ta’ala Mahakaya secara DzatNya, Yang memiliki kekayaan yang sempurna lagi mutlak dari segala sisi dan tinjauan, lantaran kesempurnaanNya dan kesempurnaan sifat-sifatNya yang tidak terbetik padanya kekurangan dari segala sisi.
Allah Ta’ala selalu Maha Kaya sebab kekayaanNya merupakan konsekwensi dari DzatNya. Sebagaimana Dia selalu Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Maha Penyayang lagi Maha Baik, maka Dia juga selalu Maha Kaya dari seluruh makhluk.
Allah Ta’ala tidak membutuhkan mereka (manusia, makhluk ciptaannya) dari segala sisi. Sedangkan mereka selalu membutuhkanNya dari segala sisi. Tidak bisa mereka lepas dari kebaikan, kemuliaan, pengaturan, dan tarbiyahNya secara umum dan khusus sekejap mata pun. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah hambaNya, berada di bawah kekuasaanNya dan diatur dengan kehendakNya.
Andai saja Dia membinasakan mereka semua maka itu tidak mengurangi kemuliaan, kekuasaan, kerajaan, rububiyah dan uluhiyahNya seberat dzarrah pun.
Di antara kesempurnaan kekayaanNya adalah bahwasanya tidak akan bermanfaat bagiNya ketaatan orang-orang yang berbakti dan tidak pula berbahaya bagiNya maksiat orang-orang yang durhaka. Sekiranya penduduk bumi seluruhnya beriman, maka hal itu tidak menambah kekuasaanNya sedikit pun. Seandainya mereka semua kufur, maka tidak pula hal itu mengurangi kekuasaanNya sedikit pun.
Firman Allah
وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
“Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia.” (an-Naml/QS.27:40)
Baca juga; al-Ankabut/QS.29:6, at-Taghabun/QS.64:6, Ibrahim/QS.14:8.
Kekayaan Allah sempurna adanya. Di antara kesempurnaan kekayaan Allah Ta’ala adalah infaknya orang-orang yang berinfak dan pemberian orang-orang yang memberi fii sabilillah dan karena mengharap keridhaanNya tidak akan bermanfaat bagiNya sedikit pun. Demikian pula kikirnya orang-orang yang kikir dan pelitnya orang-orang yang pelit tidak membahayakanNya sedikit pun.
Firman Allah
وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ (38)
“Dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu.” (Muhammad/QS.47:38)
Diantara kesempurnaan kekayaan Allah Swt. adalah kesucian diriNya Ta’ala dari segala kekurangan dan aib. Oleh karena itu, siapa saja yang menyandarkan suatu kekurangan kepadaNya, berarti dia telah menyandarkan sesuatu yang bertentangan dengan kekayaanNya.
Allah ta’ala berfirman,
“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Allah mempunyai anak” Mahasuci Dia, Dialah yang Maha Kaya ; milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (Qs. Yunus/QS.10:68)
Di antara kesempurnaan kekayaan Allah adalah kesucian-Nya Tabaraka Wa Ta’ala dari sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan. Sebab, bagaimana mungkin tanah disamakan dengan Rabb alam semesta.
Bagaimana bisa orang yang fakir, lemah, dan membutuhkan secara dzatnya, yang ia tidak memiliki kecuali ketiadaan, ia disejajarkan dengan Yang Maha Kaya dan Maha berkuasa secara DzatNya, yang kekayaan, kekuasaan, kerajaan, kedermawanan, kebaikan, ilmu, rahmat, dan kesempurnaanNya yang sempurna secara mutlak merupakan konsekwensi dari DzatNya.
Selain itu, bagaimana mungkin hamba-hamba disamakan dengan Rabb Maha Pemilik nyawa, yang nyawa seluruh hamba berada di bawah genggamanNya dan tunduk kepada aturanNya.
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17)
“Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah al-Masih putra Maryam.” Katakanlah (Muhammad),”Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?” dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Maidah/QS.5:17)
Diantara kesempurnaan kekayaanNya adalah bahwasanya seluruh perbendaharaan langit-langit dan bumi berada di tanganNya, dan bahwa kedermawanan-Nya terhadap para hamba terus bersambung di waktu malam dan siang hari, dan bahwa tanganNya begitu dermawan di setiap waktu.
FirmanNya,
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (26)
“Milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Kaya, Maha Terpuji.” (Luqman/QS.31:26)
Diantara kesempurnaan kekayaanNya bahwasanya Allah menyeru hamba-hambaNya untuk memohon kepadaNya di setiap waktu, dan ketika itu Dia berjanji kepada mereka dengan diperkenankannya doa, sebesar apa pun permohonan itu.
Dia memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya dan menjanjikan kepada mereka dengan diterimanya amalan mereka dan dibalas dengan pahala. Allah Tabaraka Wa Ta’ala Mahaluas karuniaNya dan banyak pemberianNya. Sungguh, Dia telah memberi apa saja yang mereka minta dan telah memberi setiap yang mereka inginkan dan harapkan.
Diantara kesempurnaan kekayaan Allah Ta’ala adalah bahwasanya sekiranya penghuni langit dan bumi, serta para makhluk terdahulu hingga sekarang berkumpul pada suatu tempat, lalu mereka semua memohon kepadaNya segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, kemudian Allah mengabulkan permohonan mereka itu, maka hal tersebut tidaklah mengurangi dari apa yang ada di sisiNya.
Surat Fatir ayat 15 ini mengajarkan dua hal mendasar: 1) Manusia adalah makhluk yang sangat membutuhkan Allah dalam semua aspek kehidupannya. 2) Allah adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji, tidak membutuhkan makhluk, namun tetap memberikan rahmat dan karunia-Nya secara luas.
Memahami ayat ini dengan mendalam akan melahirkan sikap rendah hati, tawakal, dan rasa syukur yang tinggi kepada Allah. Ia mengajak kita untuk kembali menyandarkan seluruh harapan, doa, dan usaha hanya kepada-Nya, karena hanya kepada-Nya kita bergantung.
*****
Post a Comment for "KAMULAH YANG BERKEHENDAK KEPADA ALLAH DAN DIA-LAH YANG MAHA KAYA"